Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 3): Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam
Bagaimana sistem pemerintahan di Jazirah Arab sebelum datangnya Islam? Apakah wilayah ini benar-benar tanpa kepemimpinan, atau justru memiliki kerajaan dan penguasa yang berkontribusi besar dalam sejarah?
Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas posisi dan penduduk Jazirah Arab. Kini, kita akan menelusuri bagaimana pemerintahan dan kepemimpinan Arab berkembang sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Memahami sejarah ini, akan membantu kita melihat bagaimana situasi politik dan sosial saat Islam datang.
Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai kerajaan di Jazirah Arab dan sekitarnya yang memiliki pengaruh besar terhadap kondisi wilayah tersebut.
Kerajaan Yaman dan jejak peradaban Arab tertua
Salah satu bangsa tertua yang dikenal di Yaman berasal dari Arab ‘āribah adalah kaum Saba’. Peradaban mereka mencapai puncak kejayaan, pengaruh, dan kekuatan politiknya sekitar 11 abad sebelum masehi. Sejarah mereka dapat dibagi menjadi beberapa periode: sebelum tahun 650 SM, tahun 650 SM-115 SM, tahun 115 SM-300 M, dan tahun 300 M sampai masuknya Islam ke Yaman.
Sebelum tahun 650 SM
Pada masa tersebut, para raja mereka digelari dengan Mukarrib Saba’ dan beribu kota di Shirwah (صرواح). Pada masa tersebut, pembangunan bendungan Ma’rib dimulai. Pembangunan bendungan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah Yaman.
Tahun 650 SM – 115 SM
Pada masa ini, gelar Mukarrib sudah tidak digunakan dan penguasa Saba’ dikenal dengan Mulūk Saba’ (Raja Saba’). Pada periode ini, ibu kota berpindah dari Shirwah ke Ma’rib (مأرب).
Tahun 115 SM – 300 M
Kabilah Himyar mengambil alih kekuasaan dari Kerajaan Saba’ dan memindahkan ibu kota dari Ma’rib ke Raidan (ريدان). Setelah itu, Raidan berganti nama menjadi Zhafar (ظفار). Pada masa ini, mulai terjadi kemunduran. Penyebabnya adalah pengaruh Nabatea yang menguasai jalur perdagangan di utara Hijaz; dominasi Romawi atas perdagangan laut setelah mengusai Mesir, Suriah, dan utara Hijaz; dan persaingan antar kabilah mereka. Hal ini juga menyebabkan perpecahan suku-suku dari Qahthān dan mendorong mereka bermigrasi ke berbagai wilayah yang lebih luas.
Tahun 300 M – Masuknya Islam ke Yaman
Pada masa ini, Yaman mengalami berbagai kekacauan dan pergolakan, diikuti oleh kudeta dan perang saudara yang menjadikannya rentan diintervensi bangsa asing dan kehilangan kemerdekaan.
Pada tahun 340 M, Romawi memasuki kota Aden (عدن). Habasyah juga berhasil menduduki Yaman untuk pertama kalinya atas bantuan Romawi. Mereka memanfaatkan sibuknya suku Hamdān dan Himyar dengan persaingan. Pendudukan Habasyah ini terus berlangsung hingga tahun 376 M. Setelah itu, Yaman mendapatkan kemerdekaannya.
Namun, setelah merdeka, bendungan Ma’rib mulai retak sampai akhirnya jebol dan terjadi banjir besar yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sail al-‘arim (سيل العرم) [1] pada tahun 450 M atau 451 M. Bencana besar tersebut menghancurkan peradaban dan menyebabkan penduduk Yaman bermigrasi secara besar-besaran.
Pada tahun 523 M, seorang raja Yahudi, Dzu Nuwas (ذو نواس) memimpin serangan kejam terhadap penduduk Nasrani Najran (نجران). Ia berusaha memaksa mereka untuk meninggalkan agama Nasrani, tetapi mereka menolak. Sebagai hukuman, Dzu Nuwas menggali parit besar lalu melemparkan penduduk Nasrani tersebut ke dalam parit yang dipenuhi dengan nyala api. Inilah yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Burūj,
قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِۙ
“Binasalah orang-orang yang membuat parit.” (QS. Al-Buruj: 4)
Peristiwa kejam tersebut memicu kemarahan besar di kalangan umat Nasrani, terutama di bawah pengaruh Kekaisaran Romawi. Hal ini menyebabkan Romawi memprovokasi pasukan Habasyah untuk menyerang Yaman.
Atas dukungan Romawi, Habasyah menyiapkan armada laut dan mengirimkan 70.000 pasukan. Akhirnya Habasyah berhasil menduduki Yaman untuk kedua kalinya di bawah kepemimpinan Aryath (أرياط) pada tahun 525 M. Aryath menjadi gubernur Yaman atas nama Raja Habasyah. Akan tetapi, ia kemudian dibunuh oleh Abrahah, salah satu panglimanya sendiri. Setelah pembunuhan tersebut, Abrahah mengambil alih pemerintahan Yaman setelah mendapatkan restu dari Raja Habasyah.
Abrahah inilah yang mengerahkan pasukan untuk menghancurkan Ka’bah. Abrahah dan pasukan ini kemudian dikenal dengan ashhābul fīl (أصحاب الفيل) yang berarti ‘pasukan gajah’.
Setelah peristiwa pasukah gajah, penduduk Yaman meminta bantuan kepada bangsa Persia untuk membebaskan negeri mereka dari pendudukan Habasyah. Kekaisaran Persia akhirnya membantu mereka mengusir pasukan Habasyah dari Yaman dan Yaman berhasil memperoleh kemerdekaan di bawah kepemimpinan Ma’dikarib bin Saif Dzu Yazan Al-Himyari (معد يكرب بن سيف ذو يزن الحميري) pada tahun 575 M.
Setelah itu, penduduk Yaman menjadikan Ma’dikarib sebagai raja Yaman. Namun, setelah menjadi raja, ia tetap mempertahankan sejumlah pasukan Habasyah sebagai pelayan dan pengawal pribadinya. Sayangnya, mereka berkhianat dan membunuh Ma’dikarib. Hal ini menyebabkan berakhirnya kekuasaan dinasti Dzu Yazan di Yaman.
Setelah kematian Ma’dikarib, Kaisar Persia Kisra menunjuk seorang gubernur Persia untuk memerintah Yaman dan menjadikannya sebagai provinsi di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia. Para gubernur Persia memerintah Yaman secara bergantian, sampai akhirnya gubernur terakhir mereka Badzan (باذان) memeluk Islam pada tahun 638 M. Dengan masuk Islamnya Badzan, pengaruh Persia di Yaman berakhir, dan wilayah tersebut menjadi bagian dari kekuasaan Islam.
Selain di Yaman, ada kerajaan lain yang memiliki keterkaitan erat dengan kekuatan dunia saat itu, yaitu di wilayah Syam.
Dinamika kekuasaan Arab di Syam
Pada periode migrasi besar-besaran kabilah Arab ke berbagai wilayah, beberapa cabang kabilah Qudhā’ah bermigrasi ke perbatasan Syām dan menetap di sana. Di antaranya adalah Bani Sulaih bin Hulwan (بني سليح بن حلوان) yang kemudian melahirkan Bani Dhaj’am bin Sulaih (بنو ضجعم بن سليح) yang dikenal dengan Ad-Dhaja’imah (الضجاعمة).
Bangsa Romawi menjadikan kabilah Dhajā’imah sebagai sekutu mereka dengan tujuan menahan serangan bangsa Arab badui dan menjadi perisai melawan Persia. Sebagai bentuk dukungan, Romawi mengangkat raja dari suku ini dan mereka memegang kekuasaan selama bertahun-tahun. Di antara raja terkenal mereka adalah Ziyad bin Al-Hubulah (زياد بن الهبولة). Masa pemerintahan mereka diperkirakan berlangsung dari awal sampai akhir abad ke-2 M.
Kekuasaan mereka berakhir setelah datangnya Bani Ghassan (غسان) yang berhasil mengalahkan Dhajā’imah dan merebut kekuasaan mereka. Romawi kemudian mengangkat mereka sebagai raja Arab di Syam menggantikan Dhajā’imah.
Dengan demikian, Bani Ghassān menjadi penguasa di Syam sebagai perwakilan Romawi sampai akhirnya terjadi Perang Yarmuk pada tahun 13 H yang berujung kekalahan besar Romawi. Setelah kekalahan tersebut, raja terakhir Bani Ghassān, Jabalah bin Aiham (جبلة بن الأيهم) tunduk kepada Islam pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu.
Sejarah pemerintahan Jazirah Arab belum berakhir di sini. Masih ada satu kerajaan penting yang berperan dalam membentuk kondisi Arab sebelum datangnya Islam. Selain itu, para pemimpin kabilah memainkan peran penting meski tidak bergelar raja. Apa peran mereka dalam membentuk sejarah Arab? Temukan jawabannya insyaallah di bagian selanjutnya!
[Bersambung]
***
Penulis: Fajar Rianto
Artikel asli: https://muslim.or.id/103727-jazirah-arab-dalam-sejarah-bag-3-pemerintahan-dan-kekuasaan-sebelum-islam.html